Besek: Sampah Plastik Musuh Bersama, Ini Pahlawannya
Satu kotak nasi berkat dibungkus styrofoam butuh ratusan tahun untuk terurai di tanah. Kalikan dengan jumlah hajatan yang berlangsung setiap hari di seluruh Indonesia, dan angkanya jadi menakutkan. Besek, wadah anyaman bambu yang dulu tersisih oleh plastik murah, kini kembali dilirik sebagai jawaban paling masuk akal untuk masalah ini.
Skala Masalah Sampah Kemasan Sekali Pakai
Indonesia jadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, dan kemasan makanan sekali pakai jadi salah satu kontributor utama. Kotak nasi styrofoam, kantong plastik pembungkus jajanan, dan wadah plastik sekali pakai lain menumpuk di tempat pembuangan akhir tanpa terurai dalam waktu manusia bisa bayangkan.
Acara hajatan, syukuran, dan tahlilan jadi salah satu sumber sampah kemasan yang jarang disorot. Satu acara besar bisa menghasilkan ratusan kotak nasi sekali pakai dalam semalam.
Kenapa Besek Jadi Solusi yang Masuk Akal
Besek menjawab masalah ini bukan dengan teknologi baru, tapi dengan kembali ke bahan yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Pertama, bahan bakunya terbarukan dan cepat tumbuh. Kedua, besek terurai secara alami dalam hitungan bulan, bukan ratusan tahun seperti plastik. Ketiga, besek bisa dipakai ulang untuk menyimpan barang lain di rumah.
Perbandingan Besek dan Kemasan Plastik
| Aspek | Besek Bambu | Kemasan Plastik/Styrofoam |
|---|---|---|
| Waktu terurai | Beberapa bulan | Ratusan tahun |
| Bahan baku | Terbarukan, cepat tumbuh | Minyak bumi, tidak terbarukan |
| Sirkulasi udara | Berpori, makanan tidak cepat lembap | Tertutup rapat, makanan cepat basi |
| Bisa dipakai ulang | Ya, untuk berbagai keperluan | Umumnya sekali pakai |
| Dampak ke pengrajin lokal | Mendukung ekonomi lokal | Tidak berdampak ke ekonomi kerajinan |
Gerakan yang Sudah Mulai Bergerak
Beberapa pemerintah daerah mulai mewajibkan penggunaan besek untuk acara resmi dan hajatan warga. Katering dan penyelenggara acara pernikahan juga mulai menjadikan besek sebagai nilai jual tambahan, menawarkan konsep acara ramah lingkungan kepada klien yang peduli isu keberlanjutan.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Besek bukan solusi tanpa tantangan. Harga produksi besek masih lebih tinggi dibanding kemasan plastik produksi massal, karena prosesnya masih mengandalkan tangan pengrajin, bukan mesin cetak otomatis. Mengubah kebiasaan konsumen yang sudah terlanjur nyaman dengan kepraktisan plastik butuh dorongan dari berbagai pihak.
Peran Setiap Orang dalam Gerakan Ini
Beralih ke besek tidak butuh gerakan besar untuk memulai. Memilih besek saat menyelenggarakan hajatan kecil, membeli oleh-oleh dalam kemasan besek dibanding plastik, atau sekadar menyimpan besek bekas untuk dipakai ulang di rumah, semua jadi kontribusi kecil yang kalau dikalikan jutaan orang, berdampak besar pada pengurangan sampah kemasan sekali pakai.
Leave a Reply